Sejarah Candi Gunung Kawi " Saksi Bisu Yang Terlupa"
Ini
adalah first time buat saya nge-post di Blog ini, mudah-mudahan bermanfaat
ya....
Candi
Gunung Kawi, mungkin banyak orang belum banyak yang tahu tentang candi ini.
Candi yang terletak di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali ini merupakan peninggalan
kerajaan Hindu yang dibangun sekitar abad ke-11 dimana di kompleks candi tersebut terdapat pemakaman
keluarga raja, permaisuri dan keturunannya yang pernah memerintah di wilayah
Bali. Raja Udayana merupakan yang paling terkenal di Bali dan berasal dari
Dinasti Warmadewa. Beliau menikah dengan seorang puteri raja dari Kerajaan
Kediri bernama Gunapriya Dharma Patni, yang kemudian dikaruniai tiga orang anak
yaitu Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Karena Raja Dharmawangsa tidak
mempunyai anak laki-laki, setelah dewasa, Airlangga kemudian menjadi raja di
Jawa Timur, sementara Marakatapangkaja dan Anak Wungsu memerintah di Bali. Pada
masa inilah diperkirakan candi tebing kawi dibangun. Salah satu bukti
arkeologis untuk menguatkan asumsi tersebut adalah tulisan di atas pintu-semu
yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji
lumah ing jalu” yang
bermakna sang raja yang (secara simbolis) disemayamkan di Jalu. Raja yang
dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji
(senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan.
Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai
nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi tersebut
Ketika itu pemerintahan yang berkuasa adalah
Raja Marakatapangkaja, sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa kompleks
Pura Gunung Kawi dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja
Anak Wungsu. Sebagai salah satu bukti, Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan
pembangunannya adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, terdapat
pula makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan
terbesar di Bali. Makam abu kedua raja itu berada di balik pahatan candi
dinding. Dengan adanya makam itu, maka kompleks Pura Gunung Kawi disebut pula
sebagai makam Dinasti Warmadewa. Beberapa sumber keterangan dari warga di
sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh
Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kesaktian dan kekuatan yang
sangat besar. Konon Kebo Iwa membuat pahatan candi-candi pada tebing batu di
sekitar Gunung Kawi itu hanya dengan menggunakan kuku tangannya.
Lokasi Candi
Candi Gunung Kawi terletak di
Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten
Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. Terletak sekitar 40 kilometer dari Kota
Denpasar. Untuk Mencapai Lokasi Candi para pengunjung harus menuruni sekitar
320 anak tangga.
Sesampainya di kompleks candi, wisatawan akan menyaksikan
dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi
pertama terletak di sebelah barat sungai, menghadap ke timur, yang berjumlah
empat buah. Sedangkan candi kedua terletak di sebelah timur sungai, menghadap
ke barat, yang berjumlah lima buah. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga
dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air. Menyaksikan dua kompleks candi
ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang
dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat sebuah
candi. Candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindunginya
dari ancaman erosi.
Pura
Gunung Kawi ini digunakan oleh umat Hindu pada saat upacara Piodalan yang
dilakukan setiap satu tahun sekali, pada bulan Purnama ketiga, untuk pemujaan
kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.
Tepat
di sebelah tenggara kompleks candi ini terdapat sebuah wihara yang dijadikan
sebagai tempat tinggal pendeta Budha atau Bhiku. Peninggalan candi dan wihara
ini bisa ditafsirkan sebagai penghargaan atas keragaman agama dan budaya yang
sudah ada di Bali sejak dahulu kala. Sehingga dengan berkunjung ke Candi Gunung
Kawi kita dapat belajar mengenai sejarah, kebudayaan, dan sekaligus menikmati
keindahan alam di sekitar kompleks candi.
Pada kompleks candi di sebelah barat terdapat semacam
“ruang” pertapaan yang juga disebut wihara. Wihara tersebut dipahat di dalam
tebing yang kokoh dan dilengkapi dengan pelataran, ruangan-ruangan kecil
(seperti kamar) yang dilengkapi dengan jendela, serta lubang sirkulasi udara di
bagian atapnya yang berfungsi juga untuk masuknya sinar matahari. Ruangan-ruangan
di dalam wihara ini kemungkinan dahulu digunakan sebagai tempat meditasi maupun
tempat pertemuan para pendeta atau tokoh-tokoh kerajaan lainnya.
Situs lainnya yang masih satu kompleks dengan Candi Gunung
Kawi adalah gapura dan tempat pertapaan yang disebut Geria Pedanda. Di tempat
ini wisatawan dapat menyaksikan beberapa gapura dan tempat pertapaan. Para ahli
menyebut tempat ini sebagai “Makam ke-10”. Penamaan oleh para ahli ini
didasarkan pada tulisan singkat dengan huruf Kediri yang berbunyi “rakryan”, yang jika ditafsirkan merupakan tempat
persemayaman seorang perdana menteri atau pejabat tinggi kerajaan. Sementara di
bagian lain, agak jauh ke arah tenggara dari kompleks Candi Gunung Kawi,
melewati persawahan yang menghijau, terdapat beberapa ceruk tempat pertapaan
dan sebuah wihara yang nampaknya sebagian belum terselesaikan secara sempurna
oleh pembuatnya.
Kompleks Candi Gunung Kawi memang sengaja dibuat untuk
persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun makna persemayaman di sini
bukan sebagai kuburan untuk badan sang Raja dan keluarganya, melainkan dalam
pengertian simbolis, yakni untuk penghormatan kepada sang raja. Oleh sebab itu,
mengunjungi tempat ini Anda akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks
Candi Gunung Kawi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, sembahyang,
atau untuk sekedar berwisata. Lokasinya yang sejuk dan terletak persis di tepi
sungai membuat kompleks percandian ini menawarkan aura ketenangan batin yang
dalam.

Komentar
Posting Komentar